SAMBUTAN CONFERENCE CHAIR KCIF 2026


Salam solidaritas, salam keberagaman, salam feminis, dan salam KCIF!


Atas nama Conference Chair KCIF2026, saya berterima kasih pada Anda semua yang telah berkenan menjadi bagian dari KCIF2026. Partisipasi Anda menjadi salah satu faktor penting konferensi ini bisa terlaksana. Ucapan terima kasih dan apresiasi secara khusus saya sampaikan pada para anggota Komite Konferensi KCIF2026 dari LETSS Talk (Let’s Talk about Sex and Sexualities), ETNOGRAFIK Research Center (ERC) Universitas Sumatera Utara, dan Mitra Wacana, para panelis/presenter yang telah mengirimkan abstrak dan proposal, para chair panel, Juru Bahasa Isyarat (JBI), moderator, dan English-Indonesian Interpreter. Tentu saja, saya juga berterima kasih pada para peserta konferensi yang sudah melakukan registrasi untuk mengikuti sesi-sesi dalam KCIF2026.


KCIF2026 merupakan edisi keempat Annual Kartini Conference on Indonesian Feminisms (KCIF). Ide konferensi ini tidak terlepas dari keinginan untuk membangun tradisi aktivisme akademik feminis keindonesiaan yang inklusif, yang bisa menjadi media perayaan keragaman feminisme Indonesia. Hingga penyelenggaraan yang keempat ini, KCIF bisa dilakukan secara gratis meski tanpa dukungan sponsor dari pihak manapun, baik lembaga maupun individu. Tentu, sangat banyak kontribusi dari berbagai pihak agar KCIF bisa dilaksanakan secara gratis. Semua pihak yang terlibat dalam KCIF bekerja secara pro bono tanpa mendapat kompensasi finansial. Lembaga-lembaga yang terlibat mengorganisasi KCIF2026, yaitu LETSS Talk, ERC Universitas Sumatera Utara, dan Mitra Wacana “patungan” agar KCIF bisa sedikit memberi “subsidi” bagi para Juru Bahasa Isyarat (JBI) yang memerlukan data internet untuk bisa berpartisipasi dalam KCIF2026. Semua kontribusi tersebut, salah satunya, didasari oleh komitmen pada penguatan pengetahuan feminis keindonesiaan yang inklusif.


Dalam penyelenggaraan yang keempat, KCIF tidak lagi menjadi inisiatif yang merefleksikan “the emerging culture,” tapi gagasan yang berkembang semakin solid. Meski berganti-ganti, KCIF mulai memiliki tim yang berpengalaman dalam mengorganisasi konferensi yang cukup besar. KCIF juga mulai menemukan pola (pattern), baik secara teknis maupun substantif, sebuah konferensi feminis. Salah satu aspek fundamental KCIF sebagai konferensi feminis adalah kombinasi saling melengkapi berbagai agenda politik feminis, dari kajian akademik, advokasi kebijakan, pemberdayaan masyarakat, hingga refleksi personal. KCIF memahami bahwa pengetahuan feminis keindonesiaan tidak hanya tersentralisasi pada kerja-kerja akademik di lembaga pendidikan formal yang hanya melibatkan para akademisi dan peneliti “profesional.” Pengetahuan feminis keindonesiaan berisi dimensi pengetahuan sangat kaya, termasuk yang bersumber pada pengalaman keseharian bergelut dan bergulat dengan dinamika sosial-politik. Namun demikian, sebagai gagasan yang terus berkembang, KCIF akan selalu menyediakan ruang untuk eksperimentasi tanpa batas.


Sebagai konferensi feminis tahunan (annual conference), KCIF memercayai pengetahuan feminis yang kontinu, tidak stagnan, dan responsif pada perubahan. KCIF juga menyadari dan mengakui sepenuhnya keragaman aktor pengetahuan, termasuk para penyintas yang sering kali tidak punya ruang untuk mengekspresikan pengetahuan yang dihasilkan dari pergulatan bertahan dari ketidakadilan. Melalui KCIF, suara-suara termarginal dalam produksi dan sirkulasi pengetahuan feminis, yang lebih sering dianggap hanya layak diwakilkan, mendapat kesempatan untuk terlibat sebagai subjek pengetahuan.


KCIF2026 mengangkat tema “Menguatkan Kepemimpinan dan Kepedulian Feminis di Tengah Polarisasi Politik, Perang Ekonomi, dan Paradoks Teknologi Digital.” Tema ini memberi pesan tentang feminisme yang tidak berjarak dengan perubahan sosial-politik beserta dampaknya yang tidak selalu mendukung agenda feminisme untuk menghadirkan keadilan. Polarisasi politik, perang ekonomi, dan teknologi digital mewarnai dinamika sosial-politik kontemporer, menuntut respons kepemimpinan feminis yang mengandalkan kepedulian dan solidaritas sebagai fondasi utama. Dengan membayangkan dampak serius dinamika sosial-politik tersebut pada ketidakadilan, kepemimpinan feminis menyediakan alternatif “jalan” agar kita bisa tetap peduli pada mereka yang tersisih. Melalui tema ini, KCIF ingin menjadi bagian dari agenda memikirkan situasi mereka yang paling merasakan ketidakadilan akibat perkembangan sosial-politik saat ini. For a moment, let’s think about them! Let’s feel them!


Politik global, Indonesia tidak terkecuali, sedang menghadapi kembalinya otoritarianisme (the authoritarian shift). Rezim otoritarian baru yang berkolusi dengan oligarkisme menciptakan situasi sosial-politik yang menghapus kepedulian dan solidaritas dari kamus kehidupan publik, tidak hanya di level politik, tapi juga dalam keseharian. Ekstraktivisme sumberdaya --bahkan tak menyisakan ampas sekalipun-- menjadi konsekuensi langsung perkawinan otoritarianisme dan oligarkisme. Penumpukan kekuasaan dan kekayaan pada segelintir elit politik dan ekonomi dibarengi dengan pemiskinan yang semakin masif. Yang tragis, perkembangan ini juga memengaruhi cara berpikir kontemporer: secara massal, semakin sulit bagi kita untuk menemukan jejak kepedulian sosial yang langgeng, bukan sekadar simpati instan dan temporer melalui media sosial. Apakah feminisme hari ini masih bisa diandalkan untuk sekadar menawarkan jalan alternatif ekonomi-politik berbasis kepedulian, solidaritas, dan empati? Atau feminisme hari ini juga telah menjelma menjadi feminisme oligarki? Feminisme oligarki? Terdengar paradoks, namun, tak mustahil di tengah suasana sosial-politik kontemporer penuh anomali. Akhirnya, apakah ada yang perlu direformasi dari cari kita “berfeminis”?


Membuat pertanyaan sebanyak mungkin adalah membangun jalan alternatif, menandakan feminisme yang tidak berhenti dan tidak lelah memikirkan dinamika sosial dengan segala efeknya pada ketidakadilan. KCIF menjadi tempat membangun pertanyaan kritis, mendiskusikannya juga secara kritis, mencoba mencari jawaban sambil membayangkan jawaban itu bisa menjadi jalan keluar masalah yang dihadapi mereka yang paling terdampak ketidakadilan sosial. Hari ini, kepedulian menjadi harga paling rendah yang bisa ditawarkan feminisme, dan saya sangat berharap, itu bisa tumbuh menguat di forum-forum KCIF.


Selamat mengikuti KCIF2026 dalam semangat mengembangkan pengetahuan feminis keindonesiaan dan menguatkan kepedulian sosial terhadap mereka yang termarginal.

 

Jakarta, 15 Agustus 2026

 

Diah Irawaty, M.A., Ph.D.

Conference Chair KCIF2026